Mungkin ini yang disebut, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bongkar-bongkar dahulu, baru ketemu kemudian."
Saya tiba-tiba ingin membaca kembali kumpulan cerpen Rahasia Selma, setelah melihat seorang kawan bernostalgia dengan penulis kesukaannya.
Saya sendiri, bisa dibilang angin-anginan kalau urusan penulis kesukaan. Saya pernah menyukai DEE (Dewi Lestari), pun pernah terjerat Eka Kurniawan, dan penulis luar negeri pun nggak ketinggalan. Saya pernah diajak jalan-jalan oleh Orhan Pamuk ke negerinya, pun terjebak dalam sensualitas Haruki Murakami. Namun, saat saya harus memilih siapa penulis kesukaan saya, itu mustahil. Semustahil memilih Oshi kesukaan.
Kawan saya ini, mengunggah satu halaman dari buku penulis kesukaannya ke ruang obrolan kami, dan menyemburkan kenangannya. Saya sendiri pun kemudian teringat dengan Rahasia Selma yang ditulis Linda Christanty. Satu-satunya kumpulan cerpen yang selalu ingin saya baca berkali-kali. Sayangnya, buku tersebut tidak ada di atas meja. Buku itu telah saya simpan entah di mana.
Saya berusaha mengingat sebentar di mana buku tersebut berada, sebelum memutuskan untuk membongkar kotak karton yang paling dekat. Ada beberapa buku di sana, tapi Rahasia Selma tidak ada di dalamnya. Saya pun kemudian pindah ke kotak karton yang lebih besar. Saya ambil satu persatu buku di sana, memeriksa dengan teliti dan hati-hati, tapi tetap tidak ada.
Belum menyerah, saya bongkar lagi kotak karton yang pertama, lalu dilanjut dengan yang lainnya. Tetap tidak ada. Saya mulai berpikir buruk. Jangan-jangan buku itu dicuri orang.
Sambil berasumsi tidak jelas, saya menata lagi buku-buku tadi. Mengembalikannya dalam kotak karton, sambil sesekali memeriksa judulnya. Siapa tahu tadi terlewat. Namun sampai kotak karton itu kembali ke habitatnya semula, buku tersebut belum ketemu. Saya jadi merasa bersalah dengan orang yang memberikannya. Saya mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang dengan baik hati memberikannya pada saya.
Seraya berusaha mengingat di mana saya menyimpan buku tersebut, saya mulai membuka laci lemari satu persatu. Dan di situlah buku itu bersemayam, di antara dokumen mahal seperti ijazah dan kertas dokumen kepolisian. Bentuknya masih sama seperti saat saya pertama kali menerimanya, meski waktu telah mengikis sedikit demi sedikit tepiannya.
Ada rasa bahagia yang membucah di dalam dada saat menyentuhnya kembali setelah sekian lama. Seperti bertemu kembali dengan cinta pertama yang masih sama-sama belum menikah, dan masih ada debar-debar cinta, meski tidak sehebat dulu.
Dan sepertinya, malam ini saya akan bercengkrama dengannya sampai pagi. Selamat membaca kembali.
Saya tiba-tiba ingin membaca kembali kumpulan cerpen Rahasia Selma, setelah melihat seorang kawan bernostalgia dengan penulis kesukaannya.
Saya sendiri, bisa dibilang angin-anginan kalau urusan penulis kesukaan. Saya pernah menyukai DEE (Dewi Lestari), pun pernah terjerat Eka Kurniawan, dan penulis luar negeri pun nggak ketinggalan. Saya pernah diajak jalan-jalan oleh Orhan Pamuk ke negerinya, pun terjebak dalam sensualitas Haruki Murakami. Namun, saat saya harus memilih siapa penulis kesukaan saya, itu mustahil. Semustahil memilih Oshi kesukaan.
Kawan saya ini, mengunggah satu halaman dari buku penulis kesukaannya ke ruang obrolan kami, dan menyemburkan kenangannya. Saya sendiri pun kemudian teringat dengan Rahasia Selma yang ditulis Linda Christanty. Satu-satunya kumpulan cerpen yang selalu ingin saya baca berkali-kali. Sayangnya, buku tersebut tidak ada di atas meja. Buku itu telah saya simpan entah di mana.
Saya berusaha mengingat sebentar di mana buku tersebut berada, sebelum memutuskan untuk membongkar kotak karton yang paling dekat. Ada beberapa buku di sana, tapi Rahasia Selma tidak ada di dalamnya. Saya pun kemudian pindah ke kotak karton yang lebih besar. Saya ambil satu persatu buku di sana, memeriksa dengan teliti dan hati-hati, tapi tetap tidak ada.
Belum menyerah, saya bongkar lagi kotak karton yang pertama, lalu dilanjut dengan yang lainnya. Tetap tidak ada. Saya mulai berpikir buruk. Jangan-jangan buku itu dicuri orang.
Sambil berasumsi tidak jelas, saya menata lagi buku-buku tadi. Mengembalikannya dalam kotak karton, sambil sesekali memeriksa judulnya. Siapa tahu tadi terlewat. Namun sampai kotak karton itu kembali ke habitatnya semula, buku tersebut belum ketemu. Saya jadi merasa bersalah dengan orang yang memberikannya. Saya mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang dengan baik hati memberikannya pada saya.
Seraya berusaha mengingat di mana saya menyimpan buku tersebut, saya mulai membuka laci lemari satu persatu. Dan di situlah buku itu bersemayam, di antara dokumen mahal seperti ijazah dan kertas dokumen kepolisian. Bentuknya masih sama seperti saat saya pertama kali menerimanya, meski waktu telah mengikis sedikit demi sedikit tepiannya.
Ada rasa bahagia yang membucah di dalam dada saat menyentuhnya kembali setelah sekian lama. Seperti bertemu kembali dengan cinta pertama yang masih sama-sama belum menikah, dan masih ada debar-debar cinta, meski tidak sehebat dulu.
Dan sepertinya, malam ini saya akan bercengkrama dengannya sampai pagi. Selamat membaca kembali.
Komentar
Posting Komentar