Langsung ke konten utama

Postingan

Uang Bukanlah Kanvas untuk Tinta

Hari ini saya menemukan lembaran uang yang cukup menarik. Di salah satu sisi uang bernominal dua ribu yang tanpa sengaja terpegang oleh tangan saya, ada kata-kata yang tertulis. Entah itu puisi atau prosa tentang kerinduan. Saya tidak bisa mengklasifikasikannya. Selain kata-kata, di tepi paling atas tertulis angka 280318. Mungkin itu adalah titimangsa dari tulisan tersebut. Sebuah penanda kapan tinta hitam yang digunakan penulis menggores kertas berharga ini: tanggal 28 Maret 2018. Itu sekitar sebelas hari yang lalu. Dengan waktu yang cukup singkat tersebut, mungkin si penulis adalah tetangga saya. Seseorang yang sekampung dengan saya. Atau mungkin, ia adalah anggota keluarga saya sendiri.  Saya jadi bertanya-tanya, siapakah yang menulis kata-kata di lembaran tersebut yang berbunyi: "Kamu pernah datang sebagai penyembuh. Aku percaya, kamu tak akan pergi sebagai pembunuh, tetaplah berjuang! Semoga waktu2 rindu membawamu pulang." Dilihat dari gaya tulisan dan kondisinya si ...
Postingan terbaru

Cinta Pertama dan Menemukan Buku

Mungkin ini yang disebut, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bongkar-bongkar dahulu, baru ketemu kemudian." Saya tiba-tiba ingin membaca kembali kumpulan cerpen Rahasia Selma, setelah melihat seorang kawan bernostalgia dengan penulis kesukaannya. Saya sendiri, bisa dibilang angin-anginan kalau urusan penulis kesukaan. Saya pernah menyukai DEE (Dewi Lestari), pun pernah terjerat Eka Kurniawan, dan penulis luar negeri pun nggak ketinggalan. Saya pernah diajak jalan-jalan oleh Orhan Pamuk ke negerinya, pun terjebak dalam sensualitas Haruki Murakami. Namun, saat saya harus memilih siapa penulis kesukaan saya, itu mustahil. Semustahil memilih Oshi kesukaan. Kawan saya ini, mengunggah satu halaman dari buku penulis kesukaannya ke ruang obrolan kami, dan menyemburkan kenangannya. Saya sendiri pun kemudian teringat dengan Rahasia Selma yang ditulis Linda Christanty. Satu-satunya kumpulan cerpen yang selalu ingin saya baca berkali-kali. Sayangnya, buku tersebut ...

Ketika Perempuan Putih Memakai Gaun Putih

Apa yang pertama kali saya pikirkan saat mendengar kata "putih" adalah halaman buku. Meskipun halaman buku tidak selalu putih, seperti buku bajakan yang menggunakan kertas koran. Pun tak mutlak putih seperti halaman kosong pada Microsoft Word milik penulis malas. Namun, tetap saja halaman buku adalah hal pertama yang saya pikirkan, sebelum benda-benda lain bermunculan. Semaca kapur tulis, nasi, tahu, atau pun bintil jerawat. Bahkan penyakit-penyakit kulit lain semacam panu atau yang berhubungan dengan daerah kewanitaan. Kali ini saya mendapatkan imaji baru soal "putih" . Sesuatu yang mungkin akan menempati otak saya selama beberapa bulan ke depan, atau segera hilang bersamaan dengan buku-buku yang akan saya baca kemudian. Layaknya ide yang tiba-tiba muncul dalam kepala. Suatu waktu ia seperti lintah yang tak mau lepas sampai ia kenyang mengisap darah kita, dan pada suatu yang lain ia mirip angin yang mengembus. Datang hanya untuk menyapa, kemudian lenyap tanpa bi...